Coretan Pertama(x)
Pagi hari, ketika mencari buku bacaan untuk mengisi waktu luang karena hari ini merupakan hari libur, tak dinyana menemukan buku lama yang berjudul “Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda “ karangan Dale Carnegie terjemahan Gramedia Pustaka Utama tahun 1989. Tampilan buku jelas sudah usang dan kertas berwarna kekuning – kuningan. Izinkan saya berbagi dua pesan yang didapat setelah membaca kembali buku ini.
Pesan pertama, “ Jadilah Dirimu Sendiri “
Bertindaklah sesuai dengan anjuran bijak yang diberikan Irving Berlin kepada almarhum George Gershwin. Ketika Berlin dan Gershwin bertemu untuk pertama kalinya, Berlin sudah terkenal sedangkan Gershwin adalah seorang penggubah lagu yang masih muda berjuang keras di Tin Pan Alley, namun hasilnya hanya 35 dollar seminggu. Terkesan oleh kemampuan Gershwin, Berlin menawari pekerjaan sebagai sekretaris musiknya dengan gaji tiga kali lipat, “ Tetapi jangan kau terima pekerjaan itu, “ nasihat Berlin. “ Kalau kau terima, kau hanya akan menjadi Berlin kelas kambing, tetapi jika kau bersikeras untuk tetap menjadi dirimu sendiri, suatu hari kau akan menjadi Gershwin yang cemerlang. Nasihat itu dituruti Gershwin dan secara perlahan ia menjadikan dirinya seorang penggubah yang penting di Amerika pada masanya. ( hal : 11 – 12 )
Pesan kedua, “ Syukurilah apa yang anda miliki, bukannya cemas akan apa yang tidak anda miliki “
“ Saya seorang pencemas “ kata Harold Abbot. Sudah dua tahun Harold membuka toko bahan makanan di kota Webb dan akhirnya terpaksa ditutup. Selama itu bukan hanya semua tabungannya yang hilang, melainkan juga hutang – hutang yang mencicilnya memerlukan waktu tujuh tahun. Sekarang saya mau ke Merchant and Miners Bank untuk meminjam uang sebagai bekal mencari pekerjaan di Kansas. Saya melangkah bagai orang yang sudah kalah. Saya kalah dalam semua upayaku dan runtuh kepercayaan diriku. Lalu tiba – tiba Harold melihat seseorang yang tidak mempunyai kaki di jalan raya. Ia duduk di papan kayu yang diberi roda. Kedua tangannya memegang tangkai kayu untuk menggerakkan papan tadi. Harold baru saja melihatnya menyeberangi jalan dan mulai mengangkat dirinya sendiri menaiki trotoar. Sewaktu ia mengangkat papan kayunya, matanya bertemu dengan mataku. Ia menyalamiku sambil tersenyum lebar “ Selamat pagi Tuan, Pagi yang cerah bukan ? “katanya bersemangat. Sewaktu Harold berdiri memandanginya, ia menyadari betapa kaya dirinya. Kini, di kaca kamar mandi Harold, ia mencantumkan kalimat yang ia baca setiap pagi, demikian “ Aku pernah murung karena tidak mempunyai sepatu, ketika sampai di jalanan, aku bertemu orang yang tidak mempunyai kaki “ ( hal : 48 – 49 )
Filed under: Coretan | Leave a Comment
No Responses Yet to “Coretan Pertama(x)”