Pengaturan Kekayaan Intelektual di IT-driven Value Chain

Ada yang tahu backbone dari bisnis e-ticketing? Banyak pihak berkolaborasi untuk mewujudkan value-chain tersebut. Mulai dari airline, bank, system aggregator, agen tiket. Ada yang berwujud integrated chain dimana keempat aktor tersebut saling mengetahui dan membuat chain tersebut. Ada pula yang terpisah-pisah, system aggregator-agen bekerja sama dengan bank, lalu bank baru bekerja sama dengan airline.

 

Dibalik value-chain tersebut ada beberapa resiko bagi aktor yang membangun, memiliki dan mengoperasikan sistem IT yang menjadi backbone dari value-chain tersebut:

 

-technology risk, dimana mitra kolaborasi juga mengetahui “daleman” dari teknologi yang digunakan sehingga memunculkan resiko kedua yaitu competitor risk dimana apabila term dari kolaborasi telah berakhir, mitra kolaborasi dapat menjadi kompetitor di lini bisnis yang sama.

 

-confidentiality risk, dimana karena ada pertukaran informasi dan data saat value-chain efektif berjalan, maka informasi yang mungkin sensitif bagi salah satu pihak dapat terakses baik sengaja maupun tidak sengaja oleh pihak lainnya.

 

Kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam joint venture entity atau contractual relationship. Masing-masing memiliki keunggulan dan resiko. Dalam contractual relationship, pihak yang tidak memiliki HKI dalam value-chain tersebut hanya akan bergantung pada transaction fee. Sedangkan pihak yang memiliki HKI memiliki kesempatan untuk memungut license fee. Sebaliknya bagi pihak yang memiliki HKI justru memiliki technology risk seperti diatas.

 

Apabila menggunakan joint venture entity, biasanya HKI dari sistem IT akan dialihkan ke JVCo sebagai separated entity, baik secara kontraktual maupun secara registrasi di Kantor HKI. Dengan demikian technology risk diatas dapat dikurangi. Namun membentuk JVCo membutuhkan startup cost untuk mendirikan dan perijinan teknis supaya JVCo dapat beroperasi.  

 

Terkait HKI dalam value-chain tersebut, untuk model contractual relationship sering terjadi sengketa perihal HKI yang timbul dalam berjalannya value-chain. HKI sebelum value-chain berjalan relatif tidak banyak masalah karena jelas pemiliknya. Isu ini sebaiknya telah diatur sedemikian rupa sehingga tegas dan jelas kepemilikannya. Untuk model joint venture entity, isu ini relatif tidak menjadi masalah karena sebagian besar para pihak akan sepakat bahwa seluruh HKI yang timbul setelah value-chain beroperasional adalah milik JVCo sepenuhnya.

 

Alternatif lainnya jika menggunakan JVCo adalah:

 

-dari pihak prinsipal tidak mengalihkan HKInya namun cukup dengan exclusive license ke JVCo dengan term yang sama dengan term JVCo.

 

-untuk HKI yang timbul setelah value-chain berjalan, JVCo memberikan non-exclusive license kepada pihak prinsipal dengan term dan batasan yang tidak mengganggu/berkompetisi dengan value-chain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s