License Dalam Digital Content Value-Chain

Bagaimana pelaksanaan value-chain tentang digital content di internet. Sehari-hari kita disuguhkan melalui siaran berita tv streaming, menonton tv dan lagu, melakukan sinkronisasi jadwal meeting, melihat peta dan menggunakan penunjuk arah.

 

Gene K. Landy (2009) membagi lingkungan komunikasi mobile dan internet menjadi:

 

Entertainment                Information                   Communication

Personalization              Productivity                  Security and Protection

Commerce                    Location-based Service

 

Para pemain/aktor dalam value-chain ini juga menentukan struktur transaksi:

 

-Application and technology supplier, sepert Cisco (sistem jaringan), Microsoft (hanheld dan operating system), Nokia (hardware)

 

-Access provider and carriers, seperti Telkomsel, Indosat,

 

-Content owner, yaitu para pemilik konten seperti Kompas, para artis pemilik lagu

 

-Content sites, baik yang berupa website berita (ESPN, Kompas.com), portal (Yahoo!) maupun website social media (Facebook)

 

-Content aggregator, yaitu content publisher dan service provider yang berada di tengah-tengah value-chain.

 

-Advertising networks

 

Dalam perputaran informasi yang begitu cepat, konten beralih dari satu chain ke chain lain secara begitu cepat. Isu lisensi mau tidak mau menjadi isu krusial karena menentukan hak dan batasan sebuah pihak terhadap konten yang sedang ia kuasai untuk kemudian diolah dan diteruskan ke dalam flow value-chain tersebut.

 

Beberapa isu yang sering mengemuka saat menyusun transaksi adalah:

 

-renewal rights dengan mekanisme pembentukan license fee saat renewal

Licensee yang menginginkan deal jangka panjang cenderung untuk mencari kepastian terhadap perubahan biaya produksi. Salah satu komponennya adalah license fee yang dibebankan oleh licensor.

 

-end user license.

Apabila licensee adalah pihak yang paling dekat dan berhubungan langsung dengan konsumen akhir/pengguna, licensee cenderung untuk memastikan bahwa setiap layanan yang dibeli oleh konsumen akhir sudah dilengkapi dengan end user licenses yang permanen. Hal ini berdampak positif pada reputasi licensee dimata end user.

 

-post termination limited usage

Licensee berusaha mendapatkan deal ini dengan pertimbangan apabila perjanjian dengan licensor diakhiri, licensee masih dapat mengembangkan secara mandiri content yang dilisensikan sehingga dapat menyediakan support kepada konsumen akhir/ pengguna yang sudah ada.

 

-lingkup dari license

Licensee berusaha mendapatkan seluas mungkin aktivitas yang diperbolehkan dalam lingkup license. Setidaknya ada tiga aktivitas yang diupayakan oleh licensee:

  1. Integration rights, saat konten perlu diintegrasikan dengan software atau hardware lain
  2. Replication rights, saat konten perlu dicopy supaya bisa dikirimkan ke pengguna akhir
  3. Support rights, saat licensee berhak untuk mengadakan support kepada pengguna akhir

Bagi lawyer yang menyusun transaksi jenis ini, adalah tantangan supaya setiap license dalam value-chain tersinkronisasi dengan baik dan jelas sehingga efektivitas value-chain dapat berjalan dengan seoptimal mungkin, baik dalam model yang terintegasi maupun yang terpisah-pisah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s