Data Sebagai Komoditas

IBM melaporkan bahwa 90% dari data (digital) yang ada diseluruh dunia secara kumulatif, dibuat dalam waktu dua tahun terakhir. Data, akhirnya menjadi sebuah komoditas, layaknya emas dan minyak mentah. Google dan Facebook adalah contoh bisnis yang menggunakan data sebagai “barang jualan” mereka. Google mengumpulkan informasi dan menyajikan informasi tersebut ke hadapan layar anda sesuai dengan keyword yang anda masukkan. Google Books, akhirnya dinyatakan tidak melanggar hak cipta para penulis, merupakan data.

 

Facebook menggunakan data personal yang anda upload ke Facebook (via registrasi, status yang anda unggah) sebagai dasar analisa untuk menampilkan slot iklan yang sesuai dengan kriteria anda (apa yang anda suka, anda sedang berada dimana, apa produk yang sedang anda inginkan). Selama Q1 2013, pendapatan Facebook dari web advertising mencapai USD 2,6 miliar. Tidak hanya web advertising, Facebook juga menjual data anda kepada consumer brand untuk mengetahui trend apa yang sedang berkembang.

 

Isu privasi atas data personal anda merupakan isu yang terus berkembang. Di UK, penggunaan data personal (termasuk melakukan analisa data) harus memberikan notifikasi kepada Information Commisioner. Di Indonesia, UU ITE mewajibkan penggunaan data personal harus dilakukan dengan persetujuan orang yang bersangkutan. Dimana anda memberikan persetujuan? Silahkan lihat di Terms and Condition milik Facebook.

 

Selain isu privasi, bagaimana data dapat dieksploitasi secara ekonomi namun tetap legal menjadi isu yang fundamental. Untuk dapat mengeksploitasi data secara ekonomi, terlebih dahulu anda harus memiliki data tersebut (minimal memiliki hak untuk melakukan eksploitasi). Eksploitasi terhadap data setidaknya dilakukan dalam dua metode:

 

-Data memberikan informasi yang akurat kepada produsen/pemasar untuk dapat menjual/ memasarkan produk secara lebih cepat, tepat dan mengurangi biaya.

-Data sendiri dijual sebagai komoditas

-Data membantu produsen untuk memahami perilaku konsumen (consumer behaviour).

 

Isu ketiga adalah bagaimana melindungi sekaligus mengeksploitasi data dalam commercial arrangement. Lisensi memberikan jalan untuk mengeksploitasi data secara aman dan terkontrol. NDA memberikan solusi untuk mengungkapkan data kepada pihak ketiga dengan adanya perlindungan hukum. Privacy and Security Policy memberikan solusi bagaimana penggunaan data dalam bisnis oleh karyawan dan vendor dapat menguntungkan kedua belah pihak.

 

Dalam konteks Indonesia, berikut beberapa poin yang perlu diperhatikan:

 

-Melalui UU ITE, data digital diakui diakui keberadaannya, baik sebagai alat bukti hukum yang sah, obyek hukum dan benda bergerak tidak berwujud (dalam konteks KUHPerdata).

 

-Data dilindungi dengan tiga UU yaitu UU Hak Cipta (dibawah kluster database), UU Rahasia Dagang dan UU ITE. Masing-masing UU memberikan mekanisme perlindungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s