Pertimbangan Out-Bound License

IBM pada tahun 2008 memperoleh penghasilan dari fee royalty sebesar US$ 500 juta. Tentu jumlah tersebut adalah skala perusahaan sebesar IBM. Dalam beberapa kesempatan, start-up companies di Indonesia bisa memperoleh penghasilan dari skema lisensi antara US$ 5.000 hingga US$ 500.000 per tahun, tergantung produk apa yang dilisensikan. Lisensi teknologi masih menjadi komoditas paling mahal.

Lisensi, dalam kerangka hak kekayaan intelektual merupakan metode monetisasi, bagaimana membuat suatu produk bisnis memberikan pemasukan bagi bisnis, tanpa perlu menjual produk bisnis anda tersebut. Walaupun konsumen/ orang lain membayar uang kepada anda untuk dapat menggunakan produk anda, produk tersebut tetap menjadi milik anda.

Hak kekayaan intelektual yang biasa di monetisasi adalah rahasia dagang (trade secret), know-how, paten, hak cipta (copyright) dan merek.

Berikut beberapa pointer yang bisa digunakan saat hendak mempertimbangkan memberikan lisensi (outbound license):

-memberikan lisensi bukan menjual produk. Kewenangan penuh masih tetap di tangan pemberi lisensi. Penting untuk menentukan batasan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh konsumen/ penerima lisensi. Market lisensi bisa berupa corporate client ataupun retail customer.

-memberikan lisensi kepada corporate client lebih kompleks daripada retail customer. Dengan corporate client, pemberi lisensi memiliki tekanan untuk bekerja sama secara berkelanjutan (lebih dari 1 tahun) dan perlu alokasi waktu dan tenaga lebih untuk memenuhi scope dari lisensi termasuk supporting services.

-ya, supporting services. Itulah salah satu keunggulan dari lisensi. Jamak terjadi bahwa penerima lisensi tidak memiliki hak seutuhnya layaknya pemberi lisensi. Hal ini berpengaruh pada know-how atas produk lisensi. Dengan begitu, pemberian lisensi biasa di bundling dengan jasa support lainnya dimana penerima lisensi membayar fee tambahan kepada pemberi lisensi.

-lisensi tetap memiliki kekurangan. Lisensi dapat mengakibatkan pemberi lisensi kehilangan kesempatan untuk me monetisasi produk bisnis di suatu daerah geografis tertentu, karena penerima lisensi meminta adanya hak eksklusif di daerah tersebut. Jika know-how tercampur dengan manual guideline dan tidak ada klausul kerahasiaan/ non-compete, maka secara tidak langsung pemberi lisensi memupuk potensi pesaing dimasa mendatang.

-untuk retail customer, dua halaman end user license agreement (EULA) sudah cukup untuk melindungi pemegang lisensi dari resiko yang ada. Sedangkan untuk corporate client, nuansa negosiasi lebih cenderung berupa mencari mitra bisnis. Apabila produk bisnis merupakan cutting-edge technology atau brand-new product, biasanya pemberi lisensi memiliki posisi tawar yang lebih yang memungkinkan isi dari perjanjian lisensi condong ke pemberi lisensi.

-berdasarkan hukum indonesian, lisensi harus dituangkan dalam perjanjian tertulis. Perjanjian lisensi tidak perlu didaftarkan ke kantor hak kekayaan intelektual indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s